Galé [n] Geo

Gawi Gale Geo

Home / Ayam Geo / Hukum Rimba di Pekarangan Belakang Rumah

Hukum Rimba di Pekarangan Belakang Rumah

/
/
1070 Views

Pekarangan belakang rumah sejak tegak jadi backyard sekarang sudah tak beda jauh dengan hutan belantara meski dalam skala liliput. Isinya pun baru cuma ayam-ayam meski dari berbagai jenis berbeda. Tapi disinilah cerita hukum rimba ayam itu dimulai.

Jadi teringat peribahasa popular dari seorang teman namun sedikit dipelesetkan (maapkan daku, teman). Bunyinya jadi “sejak tikus dipekarangan, banyak ayam nyang diembat“. Inilah derita Galegeo. Memelihara ayam di sela sisa halaman rumah dengan kandang seadanya dan tidak prediksi akan muncul predator. Sudah tak terhitung (karena males ngitungnya) jumlah anak ayam bahkan indukan nyang dihajar ‘pengerat’ karbitan. Dan nyatanya pengalaman pun belum mengajarkan Galegeo untuk waspada menghadapi pemangsa ayam kelas teri itu.

Kejadian nyang masih lekat menempel di otak tentang cerita tikus makan ayam adalah tentang saat betapa sayangnya Galegeo merawat anak Cemani pertama nyang menetas di backyardgeo. Dari tinggal dikotak indomie dengan suhu bohlam 5 watt hingga anakan ayam Cemani itu dipindahkan ke dalam kandang 80x80cm.

Pembuatan kandang memang sudah di antisipasi untuk siap menghadapi ulah tikus, mangkanya dikelilingi seluruh bagian kandang dengan kawat anti tikus. Tidak termasuk bagian lantai kandang dibuat berlubang untuk keluar masuk anak ayam dengan cara mengangkat kandangnya. Sayang..setelah ayam pindah ke kandang baru tersebut, Galegeo tidak memprediksi datangnya ‘maling’ menggunakan cara apa. Nyang Galegeo tau keesokan harinya anak ayam tersebut hanya tinggal leher kebawah, kepalanya hilang dengan posisi dipinggir sebelah dalam kandang.

Ya,..malingnya pintar. Tikus tau jika menggigit kawat cuma akan membuat giginya rontok, makanya doi lewat bawah kandang. Menggali tanah sehingga tembus hingga kedalam kandang dan menarik Cemani itu keluar tapi terganjal ujung kawat. Akhirnya ia cukup puas menghabiskan kepala seperti menyisakan sedikit hasil usahanya sekaligus mengejek bahwa kandang tangguh itu masih bisa ditembus. Asli.. kagak kepikiran kalo tikus mau bela-belain gali tanah buat ndapetin anak ayam Cemani.

Sakitnya Sisa Cerita Hukum Rimba kali ini

Dan kejadian itu terulang. Berawal saat Galegeo santai malam di toko depan rumah ngobrol cantik dengan bos roti gang Mantri, tiba-tiba dikejutkan dengan suara ciap anak ayam dari hasil titip netas telur Cemani ke lain indukan kemarin. Bergegas pamit dan langsung lari kebelakang. Namun telat,.. sekali lagi Galegeo gagal menyelamatkan anak-anak ayam backyardgeo dari predator karbitan itu. Menyisakan bekas mendalam dibenak. Gimana gak. Saat Galegeo datang menghampiri kandang anak Cemani itu nyang tersisa hanya tinggal satu anak ayam Cemani, itupun dengan tubuh tak lengkap. Kakinya hilang satu. Kebayang gak seh lo…

Tikus itu binatang, ayam juga binatang. Tapi koq rasanya beda perlakuan deh jika melihat kedua fauna itu. Nyang satu kepengen dirawat dan dipelihara, nyang satunya lagi asli kepengen gebuk banget. Sederhana bahagia tikus itu rasanya asal bisa menghabiskan ayam kecil di pekarangan backyardgeo saja sudah cukup. Kelewatan gak sih!

Benar kata orang Bangka nyang bilang ‘asak budu ge saro‘, artinya kalau bodoh aja susah lu, begitu kira-kira. Siapa juga awalnya nyangka kalo ntu tikus mau meraba jeruji kandang untuk mencari calon makanannya, tapi itu kenyataan. Kini semua anakan backyardgeo habis gegara hama tikus.

Tikus memang gak ada matinya. Cerita hukum rimba menjalar meski dengan beda gaya. Tak perlu kuat seperti tikus (meski ada tikus got badannya saja sudah sebesar kucing) karena masih kalah kuat dari ayam besar. Tak perlu juga berbadan besar karena masih kuat ayam juga. Namun Terlepas dari kodrat mereka sebagai binatang nyang tidak punya otak, para pengerat itu pintar. hingga jadilah mereka raja karena kepintarannya. Pintar survival dan mencari pembenaran atas sesuatu nyang hendak dicapai.

Tak ada keadilan memang jika bicara hukum rimba. Melenceng sedikit jika bicara manusia pun masih ditemukan raja-raja rimba. Nyang dengan pengaruh atas kuasa dan uang banyaklah dari manusia jadi punya kekuatan untuk berbuat semena-mena lalu dengan kekuatannya bisa lepas dari jerat hukum. Lhoh.. koq jadi ngebahas manusia?

Pfff.. sudahlah. Tuntaskan saja cerita hukum rimba ayam ini. Beribu maaf jika video dokumentasi nyang dibagi galegeo kali ini agak sedikit disturbing video. Niatnya hanya berbagi pengalaman agar penggiat ayam tidak mengalami nasib sama. Karena hidup ini adalah belajar. Semakin banyak belajar semakin banyak kita tau, semakin banyak kita tau.. semakin banyak pula kita lupa. Alaaah…

Vestibulum nec placerat orci. Mauris vehicula

Vestibulum nec placerat orci. Mauris vehicula,Vestibulum nec placerat orci. Mauris vehicula

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *